Berapa Besar Kontribusi Pemanfaatan Lahan Kosong terhadap Target Net Zero?

program csr perusahaan

Bagi perusahaan multinasional, target net zero tidak lagi cukup dipandang sebagai upaya mengurangi konsumsi energi atau mengganti sumber listrik fosil dengan energi terbarukan. Ada satu aset yang sering luput dari perhatian: lahan kosong yang berada di dalam, sekitar, atau terhubung dengan aset dan rantai nilai perusahaan.

Lahan yang tidak produktif dapat menjadi ruang untuk penghijauan, restorasi ekosistem, agroforestri, ruang hijau, hingga proyek energi terbarukan. Jika direncanakan dengan benar, pemanfaatan lahan tersebut dapat membantu perusahaan mengurangi emisi, meningkatkan ketahanan terhadap perubahan iklim, sekaligus memberikan manfaat sosial dan ekologis.

Namun, pertanyaan pentingnya adalah: seberapa besar kontribusi pemanfaatan lahan kosong terhadap target net zero?

Mengapa Lahan Menjadi Bagian Penting dari Net Zero?

Peran lahan dalam agenda iklim jauh lebih besar daripada sekadar menyediakan ruang untuk menanam pohon.

Menurut Science Based Targets initiative (SBTi), sektor Forest, Land and Agriculture atau FLAG berkontribusi sekitar 22% emisi gas rumah kaca global. Aktivitas yang termasuk di dalamnya antara lain perubahan penggunaan lahan, deforestasi, pertanian, kehutanan, penggunaan pupuk, pengelolaan ternak, serta aktivitas terkait lainnya.

Pada saat yang sama, ekosistem darat memiliki kemampuan untuk menyerap dan menyimpan karbon melalui biomassa, vegetasi, dan tanah.

Artinya, pengelolaan lahan mempunyai dua sisi sekaligus:

  1. Mengurangi sumber emisi yang berasal dari penggunaan lahan.
  2. Meningkatkan kemampuan ekosistem menyerap karbon.

Karena itu, perusahaan yang memiliki aset lahan dalam jumlah besar sebaiknya tidak melihat lahan kosong sebagai aset pasif.

Lahan tersebut dapat menjadi bagian dari strategi dekarbonisasi yang lebih luas.

Apakah Semua Lahan Kosong Bisa Membantu Net Zero?

Tidak.

Ini merupakan hal penting yang sering disalahpahami.

Pemanfaatan lahan kosong tidak otomatis menghasilkan pengurangan emisi. Besarnya kontribusi sangat bergantung pada kondisi awal lahan, luas area, jenis vegetasi, kualitas tanah, lokasi, metode pengelolaan, permanensi penyimpanan karbon, serta bagaimana manfaat karbon tersebut dihitung.

Misalnya, perusahaan memiliki 10 hektare lahan kosong.

Jika lahan tersebut hanya ditanami tanaman secara sporadis tanpa baseline, pengukuran, pemeliharaan, dan verifikasi, perusahaan akan kesulitan menentukan berapa banyak karbon yang benar-benar terserap.

Sebaliknya, jika lahan dikembangkan melalui program restorasi ekosistem dengan baseline yang jelas, pemilihan spesies sesuai kondisi lokal, pemantauan pertumbuhan, pengelolaan risiko kebakaran, dan pengukuran carbon stock, kontribusinya jauh lebih dapat dipertanggungjawabkan.

Dengan kata lain, luas lahan bukan satu-satunya indikator keberhasilan.

Berapa Potensi Kontribusinya?

Tidak ada satu angka universal yang dapat digunakan untuk semua perusahaan.

Sebagai ilustrasi, perusahaan dengan lahan kosong 100 hektare tidak dapat langsung menyatakan bahwa lahannya mampu mengimbangi sekian persen emisi perusahaan. Perhitungan harus mempertimbangkan karakteristik ekosistem dan baseline karbon.

Pendekatan yang lebih tepat adalah menggunakan formula sederhana:

Potensi kontribusi = luas lahan × perubahan carbon stock × faktor keberlanjutan/persistensi × kualitas pengukuran

Dalam praktiknya, perusahaan perlu menghitung perubahan cadangan karbon pada vegetasi dan tanah, kemudian membandingkannya dengan kondisi baseline.

Hal ini membuat pemanfaatan lahan kosong lebih tepat diposisikan sebagai salah satu instrumen dalam portofolio net zero, bukan sebagai pengganti pengurangan emisi dari kegiatan operasional.

SBTi sendiri menekankan bahwa perusahaan perlu melakukan pengurangan emisi secara mendalam. Dalam kerangka net-zero, carbon removal digunakan untuk menangani emisi residual setelah pengurangan emisi dilakukan secara signifikan.

Strategi Pemanfaatan Lahan Kosong untuk Perusahaan Multinasional

Ada beberapa pendekatan yang dapat dipertimbangkan.

1. Restorasi Ekosistem

Lahan terdegradasi dapat dipulihkan menjadi area dengan tutupan vegetasi yang lebih baik.

Manfaatnya tidak hanya terkait karbon, tetapi juga:

  • meningkatkan kualitas tanah;
  • mengurangi erosi;
  • meningkatkan keanekaragaman hayati;
  • membantu mengatur air;
  • menciptakan ruang hijau;
  • meningkatkan ketahanan terhadap cuaca ekstrem.

Pendekatan ini cocok untuk perusahaan yang memiliki lahan non-produktif dalam jangka panjang.

2. Agroforestri

Agroforestri mengombinasikan pepohonan dengan aktivitas pertanian atau penggunaan lahan produktif lainnya.

Model ini dapat memberikan manfaat ganda: meningkatkan fungsi ekologis sekaligus menghasilkan nilai ekonomi bagi masyarakat atau perusahaan.

Bagi perusahaan dengan rantai pasok berbasis komoditas, pendekatan seperti ini juga dapat dikaitkan dengan strategi pengurangan emisi dalam rantai nilai.

3. Penghijauan Area Operasional

Tidak semua lahan kosong harus dikembangkan menjadi hutan.

Perusahaan dapat membuat green belt, taman ekologis, koridor biodiversitas, atau vegetasi penyangga di sekitar fasilitas industri.

Walaupun kontribusi carbon removal-nya mungkin relatif kecil dibandingkan emisi operasional perusahaan, manfaatnya dapat lebih luas karena meningkatkan kualitas lingkungan di sekitar fasilitas.

4. Integrasi Energi Terbarukan

Dalam kondisi tertentu, lahan kosong dapat dipertimbangkan untuk pengembangan pembangkit energi terbarukan.

Jika energi tersebut menggantikan konsumsi listrik berbasis sumber emisi tinggi, kontribusi terhadap pengurangan emisi dapat lebih langsung dibandingkan hanya mengandalkan penyerapan karbon.

Karena itu, perusahaan perlu membandingkan berbagai skenario pemanfaatan lahan berdasarkan dampak iklim, ekonomi, sosial, dan ekologinya.

Lahan Kosong dan Scope 3: Mengapa Perusahaan Multinasional Perlu Memperhatikannya?

Salah satu alasan penting adalah rantai nilai.

Tidak semua dampak penggunaan lahan muncul dari operasional langsung perusahaan. Perusahaan dapat memiliki emisi terkait lahan melalui bahan baku, pertanian, kehutanan, pemasok, atau komoditas yang digunakan dalam produk.

SBTi mengembangkan FLAG untuk membantu perusahaan memasukkan emisi dan removals yang berkaitan dengan sektor forest, land, dan agriculture ke dalam target berbasis sains.

Bahkan, perusahaan dari sektor lain juga perlu memperhatikan emisi terkait lahan apabila porsinya signifikan dalam keseluruhan jejak emisi.

Ini berarti pemanfaatan lahan kosong sebaiknya tidak diperlakukan sebagai proyek CSR yang berdiri sendiri.

Program tersebut dapat menjadi bagian dari strategi ESG, climate action, biodiversity, supply chain resilience, dan net zero.

Bagaimana Mengukur Kontribusi Secara Kredibel?

Perusahaan multinasional membutuhkan pendekatan yang dapat diaudit dan dipertanggungjawabkan.

Beberapa langkah yang dapat dilakukan adalah:

  1. Inventarisasi lahan
    Petakan lokasi, luas, status, kondisi tanah, tutupan vegetasi, dan fungsi lahan.
  2. Tentukan baseline
    Identifikasi kondisi karbon dan ekosistem sebelum intervensi.
  3. Tentukan skenario pemanfaatan
    Bandingkan restorasi, agroforestri, penghijauan, energi terbarukan, atau kombinasi beberapa pendekatan.
  4. Hitung potensi carbon removal
    Gunakan metodologi yang relevan dan konservatif.
  5. Tetapkan indikator biodiversitas dan sosial
    Jangan hanya mengukur jumlah pohon atau ton CO₂.
  6. Lakukan monitoring berkala
    Perubahan tutupan lahan dan carbon stock perlu dipantau dari waktu ke waktu.
  7. Pisahkan pengurangan emisi dan carbon removal
    Jangan mencampurkan keduanya dalam satu angka tanpa metodologi yang jelas.

Pendekatan ini membantu perusahaan menghindari klaim greenwashing dan membuat kontribusi program lebih transparan.

Apa Artinya bagi Perusahaan Multinasional?

Bagi perusahaan dengan lahan luas, pertanyaannya bukan lagi sekadar “berapa banyak pohon yang bisa ditanam?”

Pertanyaan yang lebih strategis adalah:

“Bagaimana setiap hektare lahan dapat memberikan kontribusi terukur terhadap strategi iklim, biodiversitas, ketahanan bisnis, dan masyarakat?”

Inilah perubahan paradigma yang penting.

Lahan kosong dapat menjadi liability jika dibiarkan tanpa fungsi. Namun, dengan perencanaan yang tepat, lahan tersebut dapat berubah menjadi aset ekologis dan strategis.

Perusahaan juga perlu memahami bahwa kontribusi lahan terhadap net zero tidak boleh digunakan untuk menutupi emisi yang sebenarnya masih dapat dikurangi dari energi, transportasi, proses produksi, atau rantai pasok.

Net zero tetap membutuhkan decarbonization first.

Pemanfaatan lahan kemudian berperan sebagai salah satu bagian dari strategi untuk mengatasi emisi berbasis lahan dan, dalam konteks yang sesuai, mendukung carbon removal.

Saatnya Mengubah Lahan Kosong Menjadi Aset Strategis

Perusahaan yang ingin membangun program lingkungan berbasis lahan dapat memulainya dari audit sederhana: berapa luas lahan yang tersedia, bagaimana kondisi ekologisnya, apa potensi pemanfaatannya, dan bagaimana kontribusinya dapat diukur?

Pendekatan yang terstruktur akan membuat program jauh lebih bernilai dibandingkan sekadar kegiatan penanaman pohon tahunan.

Bagi perusahaan multinasional, pemanfaatan lahan kosong dapat menjadi titik temu antara net zero, ESG, biodiversity, community development, dan corporate sustainability.

Jika dirancang berdasarkan data dan metodologi yang tepat, setiap hektare lahan dapat menjadi bagian dari perjalanan perusahaan menuju ekonomi rendah karbon—sekaligus memberikan manfaat nyata bagi lingkungan dan masyarakat.

FAQ

1. Apakah lahan kosong dapat membantu perusahaan mencapai net zero?

Ya, tetapi kontribusinya bergantung pada kondisi lahan, metode pengelolaan, carbon stock, permanensi, dan kualitas pengukuran. Lahan tidak dapat secara otomatis dianggap sebagai pengganti pengurangan emisi operasional.

2. Apakah menanam pohon di lahan perusahaan sudah cukup?

Belum tentu. Program yang kredibel membutuhkan baseline, pemilihan spesies yang tepat, pemeliharaan, monitoring, serta pengukuran perubahan carbon stock.

3. Berapa persen emisi perusahaan yang dapat dikompensasi dari lahan kosong?

Tidak ada persentase universal. Perhitungannya harus dilakukan berdasarkan luas dan karakteristik lahan, potensi carbon removal, baseline, serta total emisi perusahaan.

4. Mengapa perusahaan multinasional perlu memperhatikan emisi berbasis lahan?

Karena sektor Forest, Land and Agriculture memiliki kontribusi besar terhadap emisi global dan banyak perusahaan memiliki keterkaitan dengan penggunaan lahan melalui operasi maupun rantai nilai.

5. Apakah program pemanfaatan lahan bisa menjadi bagian dari strategi CSR?

Bisa. Namun, perusahaan sebaiknya mengembangkan program tersebut secara lebih strategis agar manfaatnya dapat terhubung dengan target keberlanjutan, ESG, biodiversitas, pengembangan masyarakat, dan agenda net zero.

6. Bagaimana perusahaan memulai program pemanfaatan lahan kosong?

Langkah awal yang ideal adalah melakukan pemetaan aset lahan, menentukan baseline, mengidentifikasi potensi ekologis dan ekonomi, memilih skenario pemanfaatan, kemudian menyusun sistem monitoring dan pelaporan.

Langkah Berikutnya

Perusahaan tidak harus menunggu sampai seluruh strategi net zero selesai untuk mulai mengoptimalkan aset lahannya.

Mulailah dengan audit lahan, pemetaan potensi carbon removal, dan penyusunan program pemanfaatan lahan berbasis data. Dengan pendekatan yang tepat, lahan kosong dapat dikembangkan menjadi program lingkungan yang memiliki manfaat terukur dan relevan dengan strategi bisnis jangka panjang.

Untuk perusahaan yang ingin mengembangkan program tanggung jawab sosial dan lingkungan secara lebih terarah, pelajari layanan csr perusahaan dari PrasastiSelaras.com dan diskusikan kebutuhan program yang sesuai dengan karakteristik perusahaan Anda.