Berapa Besar Kontribusi Pemanfaatan Lahan Kosong terhadap Target Net Zero?

Bagi perusahaan multinasional, target net zero tidak lagi cukup dipandang sebagai upaya mengurangi konsumsi energi atau mengganti sumber listrik fosil dengan energi terbarukan. Ada satu aset yang sering luput dari perhatian: lahan kosong yang berada di dalam, sekitar, atau terhubung dengan aset dan rantai nilai perusahaan.

Lahan yang tidak produktif dapat menjadi ruang untuk penghijauan, restorasi ekosistem, agroforestri, ruang hijau, hingga proyek energi terbarukan. Jika direncanakan dengan benar, pemanfaatan lahan tersebut dapat membantu perusahaan mengurangi emisi, meningkatkan ketahanan terhadap perubahan iklim, sekaligus memberikan manfaat sosial dan ekologis.

Namun, pertanyaan pentingnya adalah: seberapa besar kontribusi pemanfaatan lahan kosong terhadap target net zero?

Mengapa Lahan Menjadi Bagian Penting dari Net Zero?

Peran lahan dalam agenda iklim jauh lebih besar daripada sekadar menyediakan ruang untuk menanam pohon.

Menurut Science Based Targets initiative (SBTi), sektor Forest, Land and Agriculture atau FLAG berkontribusi sekitar 22% emisi gas rumah kaca global. Aktivitas yang termasuk di dalamnya antara lain perubahan penggunaan lahan, deforestasi, pertanian, kehutanan, penggunaan pupuk, pengelolaan ternak, serta aktivitas terkait lainnya.

Pada saat yang sama, ekosistem darat memiliki kemampuan untuk menyerap dan menyimpan karbon melalui biomassa, vegetasi, dan tanah.

Artinya, pengelolaan lahan mempunyai dua sisi sekaligus:

  1. Mengurangi sumber emisi yang berasal dari penggunaan lahan.
  2. Meningkatkan kemampuan ekosistem menyerap karbon.

Karena itu, perusahaan yang memiliki aset lahan dalam jumlah besar sebaiknya tidak melihat lahan kosong sebagai aset pasif.

Lahan tersebut dapat menjadi bagian dari strategi dekarbonisasi yang lebih luas.

Apakah Semua Lahan Kosong Bisa Membantu Net Zero?

Tidak.

Ini merupakan hal penting yang sering disalahpahami.

Pemanfaatan lahan kosong tidak otomatis menghasilkan pengurangan emisi. Besarnya kontribusi sangat bergantung pada kondisi awal lahan, luas area, jenis vegetasi, kualitas tanah, lokasi, metode pengelolaan, permanensi penyimpanan karbon, serta bagaimana manfaat karbon tersebut dihitung.

Misalnya, perusahaan memiliki 10 hektare lahan kosong.

Jika lahan tersebut hanya ditanami tanaman secara sporadis tanpa baseline, pengukuran, pemeliharaan, dan verifikasi, perusahaan akan kesulitan menentukan berapa banyak karbon yang benar-benar terserap.

Sebaliknya, jika lahan dikembangkan melalui program restorasi ekosistem dengan baseline yang jelas, pemilihan spesies sesuai kondisi lokal, pemantauan pertumbuhan, pengelolaan risiko kebakaran, dan pengukuran carbon stock, kontribusinya jauh lebih dapat dipertanggungjawabkan.

Dengan kata lain, luas lahan bukan satu-satunya indikator keberhasilan.

Berapa Potensi Kontribusinya?

Tidak ada satu angka universal yang dapat digunakan untuk semua perusahaan.

Sebagai ilustrasi, perusahaan dengan lahan kosong 100 hektare tidak dapat langsung menyatakan bahwa lahannya mampu mengimbangi sekian persen emisi perusahaan. Perhitungan harus mempertimbangkan karakteristik ekosistem dan baseline karbon.

Pendekatan yang lebih tepat adalah menggunakan formula sederhana:

Potensi kontribusi = luas lahan × perubahan carbon stock × faktor keberlanjutan/persistensi × kualitas pengukuran

Dalam praktiknya, perusahaan perlu menghitung perubahan cadangan karbon pada vegetasi dan tanah, kemudian membandingkannya dengan kondisi baseline.

Hal ini membuat pemanfaatan lahan kosong lebih tepat diposisikan sebagai salah satu instrumen dalam portofolio net zero, bukan sebagai pengganti pengurangan emisi dari kegiatan operasional.

SBTi sendiri menekankan bahwa perusahaan perlu melakukan pengurangan emisi secara mendalam. Dalam kerangka net-zero, carbon removal digunakan untuk menangani emisi residual setelah pengurangan emisi dilakukan secara signifikan.

Strategi Pemanfaatan Lahan Kosong untuk Perusahaan Multinasional

Ada beberapa pendekatan yang dapat dipertimbangkan.

1. Restorasi Ekosistem

Lahan terdegradasi dapat dipulihkan menjadi area dengan tutupan vegetasi yang lebih baik.

Manfaatnya tidak hanya terkait karbon, tetapi juga:

  • meningkatkan kualitas tanah;
  • mengurangi erosi;
  • meningkatkan keanekaragaman hayati;
  • membantu mengatur air;
  • menciptakan ruang hijau;
  • meningkatkan ketahanan terhadap cuaca ekstrem.

Pendekatan ini cocok untuk perusahaan yang memiliki lahan non-produktif dalam jangka panjang.

2. Agroforestri

Agroforestri mengombinasikan pepohonan dengan aktivitas pertanian atau penggunaan lahan produktif lainnya.

Model ini dapat memberikan manfaat ganda: meningkatkan fungsi ekologis sekaligus menghasilkan nilai ekonomi bagi masyarakat atau perusahaan.

Bagi perusahaan dengan rantai pasok berbasis komoditas, pendekatan seperti ini juga dapat dikaitkan dengan strategi pengurangan emisi dalam rantai nilai.

3. Penghijauan Area Operasional

Tidak semua lahan kosong harus dikembangkan menjadi hutan.

Perusahaan dapat membuat green belt, taman ekologis, koridor biodiversitas, atau vegetasi penyangga di sekitar fasilitas industri.

Walaupun kontribusi carbon removal-nya mungkin relatif kecil dibandingkan emisi operasional perusahaan, manfaatnya dapat lebih luas karena meningkatkan kualitas lingkungan di sekitar fasilitas.

4. Integrasi Energi Terbarukan

Dalam kondisi tertentu, lahan kosong dapat dipertimbangkan untuk pengembangan pembangkit energi terbarukan.

Jika energi tersebut menggantikan konsumsi listrik berbasis sumber emisi tinggi, kontribusi terhadap pengurangan emisi dapat lebih langsung dibandingkan hanya mengandalkan penyerapan karbon.

Karena itu, perusahaan perlu membandingkan berbagai skenario pemanfaatan lahan berdasarkan dampak iklim, ekonomi, sosial, dan ekologinya.

Lahan Kosong dan Scope 3: Mengapa Perusahaan Multinasional Perlu Memperhatikannya?

Salah satu alasan penting adalah rantai nilai.

Tidak semua dampak penggunaan lahan muncul dari operasional langsung perusahaan. Perusahaan dapat memiliki emisi terkait lahan melalui bahan baku, pertanian, kehutanan, pemasok, atau komoditas yang digunakan dalam produk.

SBTi mengembangkan FLAG untuk membantu perusahaan memasukkan emisi dan removals yang berkaitan dengan sektor forest, land, dan agriculture ke dalam target berbasis sains.

Bahkan, perusahaan dari sektor lain juga perlu memperhatikan emisi terkait lahan apabila porsinya signifikan dalam keseluruhan jejak emisi.

Ini berarti pemanfaatan lahan kosong sebaiknya tidak diperlakukan sebagai proyek CSR yang berdiri sendiri.

Program tersebut dapat menjadi bagian dari strategi ESG, climate action, biodiversity, supply chain resilience, dan net zero.

Bagaimana Mengukur Kontribusi Secara Kredibel?

Perusahaan multinasional membutuhkan pendekatan yang dapat diaudit dan dipertanggungjawabkan.

Beberapa langkah yang dapat dilakukan adalah:

  1. Inventarisasi lahan
    Petakan lokasi, luas, status, kondisi tanah, tutupan vegetasi, dan fungsi lahan.
  2. Tentukan baseline
    Identifikasi kondisi karbon dan ekosistem sebelum intervensi.
  3. Tentukan skenario pemanfaatan
    Bandingkan restorasi, agroforestri, penghijauan, energi terbarukan, atau kombinasi beberapa pendekatan.
  4. Hitung potensi carbon removal
    Gunakan metodologi yang relevan dan konservatif.
  5. Tetapkan indikator biodiversitas dan sosial
    Jangan hanya mengukur jumlah pohon atau ton CO₂.
  6. Lakukan monitoring berkala
    Perubahan tutupan lahan dan carbon stock perlu dipantau dari waktu ke waktu.
  7. Pisahkan pengurangan emisi dan carbon removal
    Jangan mencampurkan keduanya dalam satu angka tanpa metodologi yang jelas.

Pendekatan ini membantu perusahaan menghindari klaim greenwashing dan membuat kontribusi program lebih transparan.

Apa Artinya bagi Perusahaan Multinasional?

Bagi perusahaan dengan lahan luas, pertanyaannya bukan lagi sekadar “berapa banyak pohon yang bisa ditanam?”

Pertanyaan yang lebih strategis adalah:

“Bagaimana setiap hektare lahan dapat memberikan kontribusi terukur terhadap strategi iklim, biodiversitas, ketahanan bisnis, dan masyarakat?”

Inilah perubahan paradigma yang penting.

Lahan kosong dapat menjadi liability jika dibiarkan tanpa fungsi. Namun, dengan perencanaan yang tepat, lahan tersebut dapat berubah menjadi aset ekologis dan strategis.

Perusahaan juga perlu memahami bahwa kontribusi lahan terhadap net zero tidak boleh digunakan untuk menutupi emisi yang sebenarnya masih dapat dikurangi dari energi, transportasi, proses produksi, atau rantai pasok.

Net zero tetap membutuhkan decarbonization first.

Pemanfaatan lahan kemudian berperan sebagai salah satu bagian dari strategi untuk mengatasi emisi berbasis lahan dan, dalam konteks yang sesuai, mendukung carbon removal.

Saatnya Mengubah Lahan Kosong Menjadi Aset Strategis

Perusahaan yang ingin membangun program lingkungan berbasis lahan dapat memulainya dari audit sederhana: berapa luas lahan yang tersedia, bagaimana kondisi ekologisnya, apa potensi pemanfaatannya, dan bagaimana kontribusinya dapat diukur?

Pendekatan yang terstruktur akan membuat program jauh lebih bernilai dibandingkan sekadar kegiatan penanaman pohon tahunan.

Bagi perusahaan multinasional, pemanfaatan lahan kosong dapat menjadi titik temu antara net zero, ESG, biodiversity, community development, dan corporate sustainability.

Jika dirancang berdasarkan data dan metodologi yang tepat, setiap hektare lahan dapat menjadi bagian dari perjalanan perusahaan menuju ekonomi rendah karbon—sekaligus memberikan manfaat nyata bagi lingkungan dan masyarakat.

FAQ

1. Apakah lahan kosong dapat membantu perusahaan mencapai net zero?

Ya, tetapi kontribusinya bergantung pada kondisi lahan, metode pengelolaan, carbon stock, permanensi, dan kualitas pengukuran. Lahan tidak dapat secara otomatis dianggap sebagai pengganti pengurangan emisi operasional.

2. Apakah menanam pohon di lahan perusahaan sudah cukup?

Belum tentu. Program yang kredibel membutuhkan baseline, pemilihan spesies yang tepat, pemeliharaan, monitoring, serta pengukuran perubahan carbon stock.

3. Berapa persen emisi perusahaan yang dapat dikompensasi dari lahan kosong?

Tidak ada persentase universal. Perhitungannya harus dilakukan berdasarkan luas dan karakteristik lahan, potensi carbon removal, baseline, serta total emisi perusahaan.

4. Mengapa perusahaan multinasional perlu memperhatikan emisi berbasis lahan?

Karena sektor Forest, Land and Agriculture memiliki kontribusi besar terhadap emisi global dan banyak perusahaan memiliki keterkaitan dengan penggunaan lahan melalui operasi maupun rantai nilai.

5. Apakah program pemanfaatan lahan bisa menjadi bagian dari strategi CSR?

Bisa. Namun, perusahaan sebaiknya mengembangkan program tersebut secara lebih strategis agar manfaatnya dapat terhubung dengan target keberlanjutan, ESG, biodiversitas, pengembangan masyarakat, dan agenda net zero.

6. Bagaimana perusahaan memulai program pemanfaatan lahan kosong?

Langkah awal yang ideal adalah melakukan pemetaan aset lahan, menentukan baseline, mengidentifikasi potensi ekologis dan ekonomi, memilih skenario pemanfaatan, kemudian menyusun sistem monitoring dan pelaporan.

Langkah Berikutnya

Perusahaan tidak harus menunggu sampai seluruh strategi net zero selesai untuk mulai mengoptimalkan aset lahannya.

Mulailah dengan audit lahan, pemetaan potensi carbon removal, dan penyusunan program pemanfaatan lahan berbasis data. Dengan pendekatan yang tepat, lahan kosong dapat dikembangkan menjadi program lingkungan yang memiliki manfaat terukur dan relevan dengan strategi bisnis jangka panjang.

Untuk perusahaan yang ingin mengembangkan program tanggung jawab sosial dan lingkungan secara lebih terarah, pelajari layanan csr perusahaan dari PrasastiSelaras.com dan diskusikan kebutuhan program yang sesuai dengan karakteristik perusahaan Anda.

Suara dari Lapangan: Testimoni Warga Penerima Manfaat Program Pemanfaatan Lahan Kosong

Program pemanfaatan lahan kosong tidak hanya berbicara tentang mengubah area yang sebelumnya tidak produktif menjadi ruang yang bermanfaat. Lebih dari itu, keberhasilan program sangat bergantung pada keterlibatan masyarakat yang menjadi penerima manfaat sekaligus penggerak di lapangan.

Melalui berbagai aktivitas pengelolaan lahan, warga dapat memperoleh manfaat ekonomi, sosial, maupun lingkungan. Namun, keberlanjutan program tidak dapat berjalan hanya karena adanya pembangunan atau bantuan di tahap awal. Partisipasi masyarakat dalam merawat, mengelola, dan mengembangkan lahan menjadi faktor penting agar manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang.

Dalam konteks CSR perusahaan, pendekatan yang melibatkan masyarakat secara aktif menjadi salah satu bagian penting dari program pemberdayaan. PrasastiSelaras.com melihat bahwa program sosial yang berkelanjutan perlu dibangun bersama masyarakat, bukan sekadar diberikan kepada masyarakat.

Dari Lahan Kosong Menjadi Ruang yang Produktif

Lahan kosong sering kali dipandang sebagai area yang tidak memiliki fungsi. Padahal, dengan perencanaan dan pengelolaan yang tepat, lahan tersebut dapat dikembangkan menjadi ruang produktif sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat.

Pemanfaatannya dapat disesuaikan dengan karakteristik wilayah dan potensi warga. Beberapa bentuk pemanfaatan antara lain:

  • Kebun atau lahan pertanian produktif.
  • Area tanaman pangan dan hortikultura.
  • Ruang penghijauan lingkungan.
  • Kebun komunitas.
  • Area edukasi bagi masyarakat.
  • Ruang kegiatan sosial warga.

Program seperti ini tidak hanya memberikan perubahan secara visual pada lingkungan. Warga juga mendapatkan kesempatan untuk belajar mengenai pengelolaan lahan, bekerja sama, serta membangun rasa memiliki terhadap fasilitas yang dikembangkan.

Warga Bukan Sekadar Penerima Manfaat

Salah satu aspek penting dari program pemanfaatan lahan kosong adalah perubahan posisi masyarakat. Warga tidak ditempatkan hanya sebagai penerima bantuan, tetapi sebagai pihak yang memiliki peran langsung dalam menentukan keberlangsungan program.

Keterlibatan tersebut dapat dimulai sejak tahap perencanaan. Masyarakat dapat menyampaikan kebutuhan, memilih jenis kegiatan yang paling sesuai, serta menentukan cara pengelolaan lahan berdasarkan kondisi lingkungan setempat.

Setelah program berjalan, peran warga semakin penting. Mereka dapat terlibat dalam pembagian tugas, perawatan tanaman, kebersihan area, hingga evaluasi kegiatan.

Pendekatan partisipatif semacam ini membuat program lebih relevan karena keputusan yang diambil mempertimbangkan kondisi nyata di lapangan.

Suara Warga: Ketika Manfaat Dirasakan Secara Langsung

Testimoni warga menjadi salah satu cara untuk melihat dampak program dari perspektif penerima manfaat. Bagi masyarakat, perubahan yang paling berarti sering kali bukan sekadar hasil pembangunan fisik, tetapi kesempatan untuk memiliki aktivitas bersama yang memberikan manfaat nyata.

Seorang warga penerima manfaat, misalnya, dapat melihat lahan yang sebelumnya terbengkalai berubah menjadi area yang dapat dikelola bersama. Aktivitas merawat tanaman dan menjaga kebersihan lingkungan kemudian menjadi rutinitas yang melibatkan lebih banyak anggota masyarakat.

Bagi warga lainnya, program tersebut dapat menjadi sarana untuk mempererat hubungan antarwarga. Kegiatan yang dilakukan secara bersama-sama menciptakan ruang interaksi dan mendorong terbentuknya rasa tanggung jawab kolektif.

Pengalaman seperti ini menunjukkan bahwa dampak program pemberdayaan masyarakat tidak selalu dapat diukur hanya melalui angka. Ada pula perubahan dalam bentuk kebiasaan, kepedulian, pengetahuan, dan hubungan sosial.

Peran Aktif Masyarakat Menjaga Keberlanjutan Program

Setelah sebuah program selesai dilaksanakan, tantangan berikutnya adalah memastikan manfaatnya tetap berjalan. Di sinilah peran masyarakat menjadi sangat penting.

Warga dapat membentuk kelompok pengelola atau pembagian tanggung jawab agar kegiatan tidak bergantung pada satu atau dua orang. Dengan adanya struktur sederhana, tugas seperti penyiraman, pemeliharaan tanaman, pembersihan lahan, dan pencatatan hasil dapat dilakukan secara lebih teratur.

Keberlanjutan juga membutuhkan rasa memiliki. Ketika masyarakat merasa bahwa lahan tersebut merupakan bagian dari kepentingan bersama, muncul dorongan untuk menjaganya.

Beberapa langkah yang dapat dilakukan masyarakat antara lain:

  1. Menetapkan jadwal perawatan secara rutin.
  2. Membagi tanggung jawab kepada anggota kelompok.
  3. Melakukan evaluasi perkembangan program.
  4. Menjaga kebersihan dan keamanan area.
  5. Mengembangkan jenis kegiatan berdasarkan kebutuhan warga.
  6. Mendorong keterlibatan generasi muda.
  7. Mendokumentasikan perkembangan dan hasil kegiatan.

Dengan cara tersebut, program tidak berhenti ketika dukungan awal berakhir, tetapi dapat terus berkembang sesuai kemampuan masyarakat.

Manfaat Sosial yang Tumbuh dari Kolaborasi

Pemanfaatan lahan kosong juga dapat memberikan manfaat sosial yang lebih luas. Ketika warga terlibat dalam satu kegiatan bersama, komunikasi dan kerja sama antaranggota masyarakat dapat meningkat.

Kegiatan pengelolaan lahan dapat menjadi ruang untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman. Warga yang memiliki kemampuan dalam bercocok tanam dapat membantu anggota lain. Sementara itu, kelompok masyarakat lainnya dapat mengambil peran dalam pengelolaan administrasi, pemasaran hasil, atau kegiatan edukasi.

Kolaborasi tersebut menciptakan ekosistem sederhana yang memperkuat kapasitas masyarakat.

Dalam pelaksanaan CSR perusahaan, pola seperti ini penting karena tujuan program tidak berhenti pada pemberian fasilitas. Program yang memiliki dampak lebih berkelanjutan justru mendorong masyarakat agar mampu mengelola manfaat secara mandiri.

Lingkungan yang Lebih Terawat

Selain manfaat sosial dan ekonomi, pemanfaatan lahan kosong dapat mendukung kepedulian terhadap lingkungan. Lahan yang sebelumnya tidak terawat dapat menjadi area hijau yang dikelola secara bersama.

Keberadaan tanaman juga dapat membuat lingkungan terlihat lebih asri. Aktivitas perawatan yang dilakukan secara rutin mendorong warga untuk lebih memperhatikan kebersihan dan kondisi area di sekitarnya.

Namun, manfaat lingkungan akan lebih optimal apabila pemanfaatan lahan dilakukan berdasarkan kondisi setempat. Pemilihan tanaman, penggunaan air, pengelolaan limbah, dan metode perawatan perlu mempertimbangkan keberlanjutan agar kegiatan tidak menimbulkan persoalan baru.

Membangun Program yang Tumbuh Bersama Masyarakat

Program pemanfaatan lahan kosong pada akhirnya bukan hanya tentang lahan. Program ini berbicara tentang bagaimana sebuah ruang dapat menjadi titik awal bagi masyarakat untuk berkolaborasi dan menciptakan manfaat bersama.

Keterlibatan warga sejak awal membantu memastikan bahwa program memiliki kesesuaian dengan kebutuhan lokal. Sementara itu, keterlibatan setelah program berjalan menjadi kunci agar hasil yang telah dibangun tetap terawat.

PrasastiSelaras.com memandang pendekatan pemberdayaan sebagai proses yang membutuhkan komunikasi, kolaborasi, dan konsistensi. Melalui CSR perusahaan, perusahaan dapat mengambil peran sebagai mitra yang membantu membuka peluang, sementara masyarakat menjadi bagian utama dalam menjaga dan mengembangkan manfaat program.

Pada akhirnya, suara warga di lapangan memberikan perspektif penting: keberhasilan sebuah program sosial bukan hanya terlihat dari apa yang dibangun, tetapi dari bagaimana masyarakat memanfaatkannya, merawatnya, dan menjadikannya bagian dari kehidupan sehari-hari.

Apa yang Membuat Program Pemanfaatan Lahan Kosong Berkelanjutan?

Program memiliki peluang lebih besar untuk bertahan apabila masyarakat dilibatkan sejak proses perencanaan hingga evaluasi. Selain itu, pembagian tanggung jawab yang jelas, pendampingan, pemantauan, dan kemampuan masyarakat mengembangkan kegiatan secara mandiri juga berperan penting.

Mengapa Partisipasi Warga Penting dalam Program Pemberdayaan?

Karena masyarakat merupakan pihak yang paling memahami kondisi, kebutuhan, dan potensi wilayahnya. Partisipasi warga membantu memastikan program lebih relevan sekaligus membangun rasa memiliki terhadap hasil yang telah dikembangkan.

Apa Saja Manfaat Pemanfaatan Lahan Kosong bagi Masyarakat?

Manfaatnya dapat mencakup peningkatan produktivitas lahan, ruang hijau yang lebih terawat, aktivitas sosial, peningkatan pengetahuan, peluang ekonomi, serta terbentuknya kerja sama antarwarga.

Bagaimana Perusahaan Dapat Mendukung Program Sejenis?

Perusahaan dapat memberikan dukungan melalui pendampingan, penyediaan sumber daya, peningkatan kapasitas masyarakat, dukungan fasilitas, serta mekanisme monitoring dan evaluasi yang mendorong keberlanjutan program.

Bagaimana Masyarakat Menjaga Program Setelah Pendampingan Berakhir?

Masyarakat dapat membentuk kelompok pengelola, membagi tugas secara rutin, melakukan evaluasi, menjaga fasilitas, serta mengembangkan kegiatan berdasarkan potensi dan kebutuhan lokal. Dengan demikian, keberlanjutan tidak sepenuhnya bergantung pada bantuan dari pihak eksternal.

Bersama Menciptakan Dampak yang Berkelanjutan

Program pemberdayaan yang kuat lahir dari kolaborasi. Ketika perusahaan, masyarakat, dan pemangku kepentingan lainnya memiliki tujuan yang sama, lahan kosong dapat berkembang menjadi ruang yang memberikan manfaat nyata.

Bagi perusahaan yang ingin mengembangkan CSR perusahaan yang berorientasi pada kebutuhan masyarakat dan keberlanjutan, PrasastiSelaras.com dapat menjadi mitra untuk merancang serta menjalankan program yang memiliki dampak terukur.

Ingin membangun program pemberdayaan masyarakat yang memberikan manfaat nyata dan berkelanjutan? Hubungi PrasastiSelaras.com untuk mendiskusikan kebutuhan program CSR perusahaan Anda dan temukan pendekatan yang sesuai dengan karakteristik masyarakat serta potensi wilayah.