YUK, JALAN JALAN HEMAT KE KOTA TUA JAKARTA

Weekend yang lalu, saya bersama seorang sahabat saya pergi ke Kota Tua, Jakarta. Saya dan dia janjian bertemu di Stasiun Kota, karena tempat tinggal kami memang agak jauh. Dia di Jakarta Selatan, saya di Bekasi. Jam 9.10, saya sudah tiba di Stasiun Kota. Teman saya waktu itu belum datang karena kesiangan, jadi saya keliling-keliling dulu cari sarapan. Jujur, saya baru pertama kali lho ke Kota Tua. Haha.

Maklum, saya juga pendatang sih, bukan asli orang Jakarta. Saya mengajak teman saya itu ke Kota Tua karena memang murni dalam rangka menjadi guide bagi saya menelusuri Kota Tua. Sambil menunggu teman saya itu datang, saya sarapan Soto Lamongan pinggir jalan sebelah Museum Mandiri, sambil mengamati orang-orang yang lewat. Asyik juga sih, makan sendirian sambil mengamati sekeliling.

Museum-Fatahillah-Kota-Tua-Jakarta

DSC03928

 

 

Setelah teman saya itu datang, destinasi pertama kami saat itu adalah Museum Mandiri, karena memang dekat sekali dengan tempat saya makan Soto Lamongan tadi.  Tiketnya masuknya gratis, hanya tinggal menulis nama kita saja di buku tamu. Di Museum ini kita bisa melihat perkembangan-perkembangan perbankan dari masa ke masa. Dari mesin ATM, mesin tik, kalkulator, tempat menyimpan berkas-berkas, administrasi perbankan dan suasana kerja jaman dulu (disertai dengan patung-patung orang yang terbuat dari lilin seukuran manusia). Dulunya gedung ini adalah perusahaan dagang milik Belanda, namun kemudian berubah menjadi usaha perbankan.  Yang sangat disayangkan dari museum ini adalah, kurang terawat. Koleksi-koleksinya banyak debu, gedungnya pun bau debu, dan pengap. Bahkan menurut saya, justru bangunan ini malah berkesan mistis saking kurang terawatnya. Apalagi kebetulan pengunjung museum waktu itu sangat sepi, dan saya berkeliling museum itu hanya berdua dengan teman saya, yang sama-sama laki laki, tanpa ada guide. Sebenarnya sih koleksi-koleksinya cukup banyak, tapi ya itu kurang terawat. Plus, minim informasi di setiap koleksi-koleksinya. Misalnya, di koleksi mesin tik, itu tidak tercantum mesin tik itu tahun berapa-berapanya.

1

 

 

Dari Museum Mandiri, kami berjalan menuju destinasi selanjutnya, yaitu Museum Bank Indonesia. Untuk masuk museum ini, gratis juga kok. Tinggal menulis nama kita saja di buku tamu. Pertama kali menginjakkan kaki di museum ini, hawa sejuk dan juga wangi menyambut kami. Beda sekali dengan Museum Mandiri yang tanpa AC dan baunya lumayan pengap. Apalagi, beruntungnya, kami didampingi oleh seorang guide yang menjelaskan dengan jelas tentang apa-apa saja yang ada di museum itu. Di museum ini dijelaskan tentang peran Bank Indonesia dari kedatangan bangsa-bangsa kolonial sampai akhirnya terbentuk Bank Indonesia itu sendiri. Di museum ini juga menjelaskan tentang kondisi perekonomian Indonesia dari masa ke masa, beserta kebijakan-kebijakan ekonomi Indonesia dari masa ke masa itu. Semuanya dijelaskan dengan tampilan visual yang sangat baik dan ilustrasi yang sangat menarik juga. Museum ini sudah diperbaharui dan diresmikan kembali tahun 2009 lalu, sehingga memang museum ini sangat nyaman dan asyik sekali untuk dikunjungi. Oh, iya disini juga terdapat banyak sekali koleksi uang-uang kertas dan logam dari masa ke masa, bahkan koleksi uang dari luar negeri pun ada. Semuanya terawat dengan sangat baik. Kalau saya harus menilai museum ini dari skala 0-10, maka saya akan memberikan nilai 9 untuk museum ini! Saya sangat merekomendasikan museum ini, sebagai tempat mengisi akhir pekan.

Around_the_World,_Bank_Indonesia_Museum

 

Setelah itu, saya dan sahabat saya itu memutuskan untuk mencari makanan-makanan di sekitar Kota Tua, karena kami sangat lapar. Selendang Mayang, adalah yang pertama saya coba. Saya baru pertama kali itu mencoba es selendang mayang, dan saya tau es ini dari televisi. Es ini katanya adalah es khas Betawi, dan sudah jarang sekali pedagang yang menjual es ini. Rasanya sih hampir mirip sama cendol, tapi bentuknya saja beda. Kalau cendol kecil-kecil, selendang mayang bentuknya segi empat warna merah, putih, dan hijau. Selendang Mayang ini terbuat dari sagu aren dan disajikan dengan santan, gula merah, dan es batu. Cukup menghilangkan dahaga di tengah-tengah teriknya kota tua.

esSelendang-betawi

 

Setelah itu, kami membeli kerak telor. Kalau ini memang bukan pertama kalinya saya makan kerak telor, tapi sudah beberapa kali. Hanya saja, rasanya makan kerak telor di Kota Tua, dan makan kerak telor di tempat lain feel nya memang beda. Makan kerak telor, dan duduk tepat disamping penjualnya yang sedang membuat kerak telor, dan juga sambil mengamati sekeliling, jelas sesuatu yang sangat mengasyikan bagi saya. Kerak telor juga sudah lumayan susah nih ditemukan penjualnya. Hanya di tempat tertentu saja dapat ditemukan penjual kerak telor.

kerak-telor-i-love-indonesia

 

Suasana yang tidak saya sukai ketika saya menikmati kuliner di Kota Tua adalah, banyak sekali pengamen, bahkan ada yang memaksa saya untuk memberikan uang sampai melotot. Pertama, tidak sopan dan kedua sangat tidak membuat saya nyaman. Ketika saya lagi minum es selendang mayang pun tiba-tiba ada dua pemuda dewasa yang meminta uang kepada saya. Saya tidak mau memberikan uang. Bukan karena pelit, tapi karena mereka yang terlalu memaksa, bahkan sampai menggertak saya berkali-kali, membuat saya malas.

Setelah kami puas makan, kami pun memutuskan untuk ke Museum Seni Rupa dan Keramik. Kalau ini tidak gratis, tapi bayar Rp 700 sih kalau tidak salah. Bangunannya sih dari luar cukup oke, karena memang dulunya gedung ini adalag gedung walikota Jakarta Barat. Waktu saya kesana, saya disambut dengan musik dan nyanyian khas Betawi. Ada penyanyinya dan ada juga pengiring musiknya. Menarik. Di museum ini kita bisa melihat koleksi-koleksi Keramik dari jaman Majapahit dan juga dari beberapa negara. Tapi sayangnya kurang banyak nih koleksinya. Disini kita juga bisa melihat bermacam-macam lukisan karya anak bangsa. Tapi menurut saya sih kurang banyak ya koleksinya. Terus juga pengap. Gedung bagian belakangnya tidak terawat. Masih banyak ruangan-ruangan yang tidak digunakan atau dimaksimalkan. Untuk ukuran museum yang dipungut bayaran, menurut saya sih kurang worth it kalau dibandingkan dengan Museum Bank Indonesia yang gratis, tapi oke banget.

60museum_keramik01

 

Nah, diluar kekurangan-kekurangan yang saya rasakan ketika saya menulusuri Kota Tua, tapi menurut saya jalan-jalan kesana benar-benar mengedukasi dan juga sangat irit! Jalan-jalan hemat, tapi menyenangkan! Sangat cocok berjalan-jalan kesana mengajak anak-anak atau juga bersama teman-teman. Cocok juga untuk foto-foto. Bahkan disana ada jasa foto dibelakang mobil dan motor antik, dengan fotografer yang lumayan lah. Selamat weekend teman teman.