Cara Kita Menunggu,…

PT. Tokai Rika Indonesia, Ditulis oleh : dita widodo

Ancol, 25 oktober 2015.

Mendengar kata ”MENUNGGU”, apa yang pertama kali melintas dalam pikiran?

Sebagian kita menjawab ”sesuatu yang membosankan, menjemukan, menjengkelkan!”

Sebagian lain yang mencoba belajar bersikap bijak akan menjawab ”menguji kesabaran”.

Tapi coba perhatikan baik-baik, bukankah suka atau tidak suka, sesungguhnya kita semua sering harus menjadi kaum penunggu?

IMG_1153

Para event organizer, pebisnis travel dan transportasi, utamanya bis wisata, mengisi bulan puasa pun tak lebih hanyalah menunggu. Apa yang dilakukan kami-kami ini?

Bagi bis pariwisata, saatnya tune-up kendaraan, mengganti interior, mengecat ulang body kendaraan, merencanakan strategi pemasaran yang lebih jitu, dst dll.

Dan bagi event organizer dan pebisnis travel, meski tidak libur total, ada banyak waktu untuk me-review pekerjaan 11 bulan sebelumnya. Sejenak bernafas sambil belajar ilmu-ilmu baru, yang sering tidak sempat dilakukan di saat kehebohan di hari-hari normal lainnya.

IMG_1109 IMG_0984 IMG_0958

Untuk seorang sales, marketing, dan sejenisnya, kata ”menunggu” sudah bukan lagi kata negatif yang meracuni pikiran. Setelah seseorang membuat penawaran, mempresentasikan produk atau program yang dijualnya, kemudian yang dilakukan adalah : menunggu. Dan pekerjaan menunggu ini pun diisi dengan mencari prospek klien baru, membuat penawaran, dan presentasi atau terlibat proses produksi. Adapun sisanya adalah untuk belajar dengan aneka metode yang ’khas” dirinya. Saya sangat yakin, putaran proses itulah yang terjadi dari bisnis terkecil hingga terbesar, di sektor usaha apapun, tanpa kecuali.

Setelah proses penawaran dan penjajakan tahun 2014 di PT. Tokai Rika Indonesia, Akhirnya perusahaan kami ditunjuk sebagai Mitranya untuk meng-organizer acara Employee Gathering dengan Tema: One Team for Bright Future, yang berlokasi di Lokasi: Ancol Pantai Utara (wisata di ATlantis dan Dufan), tepat tanggal: 25 oktober 2015 (sesuai dengan ulang tahunnya yang ke 4 Tahun) dengan jumlah Peserta: 600 orang, dan penyelenggaraanya sukses sesuai dengan harapan inilah yang disebut sengsara membawa nikmat, heheeee…. menunggunya membuat kita sengsara kenikmatannya pada saat perusahaan kami ditunjuk sebagai Mitra penyelenggaranya…

Meminjam istilah Mas Prie GS, seorang budayawan yang mengaku mempunyai tinggi badan kurang ideal dan merupakan salah satu tokoh berpengaruh dalam mendorong keinginan saya belajar menulis adalah :

”terkait dengan caramu menunggu, disitulah letak martabat hidupmu…”

Maka, setiap ada kesempatan menunggu, ingin saya bisa ”njawil” diri sendiri…”Hei, apa yang sedang dan akan kau lakukan? Inilah saatnya membangun martabat diri. Sebuah nilai yang mungkin penting di mata sesama. Tapi jauh lebih penting di hadapan sang pemberi waktu.. Karena di sinilah manusia bisa menyatakan syukurnya atas anugerah terbesar ialah : SANG WAKTU”.